• Telp. (0341) 325267
  • info@sman4malang.sch.id

Liputan Kegiatan workshop Pembelajaran dan Penilaian HOTS (Higher Order Thinking Skills)

WhatsApp Image 2017-08-09 at 12.04.12

WhatsApp Image 2017-08-09 at 12.04.11

Menunaikan Amanah Menuju Perubahan Yang Lebih Baik

Sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan, salah satu langkah yang harus ditempuh oleh lembaga pendidikan adalah memberi pelatihan kepada para pendidik (guru) agar mampu menghadirkan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana peserta didik (siswa) memiliki ketrampilan berpikir kritis-analitis terhadap pelajaran yang mereka terima dalam kegiatan belajar mereka di sekolah.

Karena alasan tersebut, melalui workshop program SMA Rujukan di SMA Negeri 4 Malang, memandang penting untuk merevitalisasi model pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS ;( Ketrampilan Berpikir Tingkat Tinggi) bagi para guru agar hasil yang mereka peroleh bisa ditransformasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Pada kegiatan workshop Pembelajaran dan Penilaian HOTS kali ini, diselenggarakan di ruang serbaguna SMA Negeri 4 Malang pada hari sabtu, 5/8/17, dari pukul 12.30 hingga 17.00 WIB. Sementara narasumber kegiatan workshop adalah Khoirul Haniin, M.Pd. dari SMA Negeri 3 Malang dan Alfan Akbar Yusuf, M.Si dari SMA Negeri 4 Malang.

Selain seluruh guru mata pelajaran SMA Negeri 4 Malang, ikut hadir sebagai undangan dalam kegiatan workshop kali ini adalah masing-masing wakil kepala sekolah bidang kurikulum dari sekolah imbas. Di antaranya; SMA Negeri 6 Malang, SMA Taman Harapan, SMA Taman Madya, SMA Lab. UM., dan SMA Shalahuddin Malang.

Kepala sekolah SMA Negeri 4 Malang, Pak Budi Prasetyo Utomo, S.Pd. M.Pd, dalam memberikan orientasi beberapa saat sebelum workshop Pembelajaran dan Penilaian HOTS dimulai, memberikan sambutan tentang pentingnya seluruh civitas memiliki kesamaan pandangan, bahwa kepercayaan pemerintah melalui direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (PSMA) yang menunjuk SMA Negeri 4 Malang sebagai salah satu SMA Rujukan, harus bisa ditunaikan dengan penuh amanah.

“SMA Rujukan pada dasarnya dipandang sebagai sekolah yang dapat dipercaya. Mengingat SMAN 4 Malang termasuk yang mendapat kepercayaan itu (sebagai SMA Rujukan, red.), maka kita harus bisa menunaikan kepercayaan yang diberikan kepada kita”, tegasnya.

Lebih lanjut pak Budi, begitu beliau biasa dipanggil, juga mengharapkan kepada peserta workshop agar ilmu yang diperoleh selama mengikuti workhsop pembelajaran dan penilaian HOTS tidak hanya sampai pada kemampuan menerima dan menyerap materi yang diberikan oleh narasumber. Lebih dari itu adalah adanya kemauan kuat untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

“Pada saat kita banyak mendapat ilmu atau materi pelatihan, maka kita diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan dalam menguasainya saja, tetapi juga ada kemauan untuk menerapkannya”, pesannya.

Lebih lanjut pak Budi juga mengajak kepada seluruh peserta workshop untuk berani melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih dinamis dan positif di saat banyak ilmu baru yang berhasil didapat.

“Pada saat kita banyak menerima ilmu baru, kemudian kita terapkan ilmu baru yang dipunyai, maka pada saat itulah kita melakukan perubahan ke arah yang lebih baik”, ungkapnya sekaligus mengakhiri orientasi workshop.

Belajar Untuk Bisa, Layak Untuk Gembira

Sementara itu, dalam memaparkan materi workshop Pembelajaran dan Penilaian HOTS, bu Khoirul Haniin menyampaikan pentingnya para guru untuk berani merubah mindset.

“Era sekarang, kita harus merubah mindset. Oleh karenanya dibutuhkan sumber daya yang memiliki cara berpikir dan bertindak sesuai dengan tuntutan kehidupan”, katanya.

Rupanya, perubahan mindset yang dimaksud adalah karena era hidup para siswa saat ini, menurutnya berbeda jauh dengan era hidup para guru, terutama terkait efektifitas akses sumber informasi sebagai akibat pesatnya arus informasi dan komunikasi sekarang ini. Sebagai konsekwensinya, maka para guru juga harus turut mengikuti langgam kemajuan zaman kekinian, termasuk membekali diri agar bagaimana level metakognitif lebih dominan mewarnai kegiatan pembelajaran.

Sementara narasumber workshop yang lain, pak Alfan Akbar Yusuf, menyampaikan pentingnya internalisasi nilai-nilai hidup (life values) bisa hadir dalam sikap hidup siswa. Pak Alfan, begitu beliau dipanggil, mengurai suatu fenomena prilaku siswa; bahwa masih banyak dijumpai siswa yang sudah menerima materi pelajaran yang mengandung nilai kepatutan dalam bersikap (etika publik), tetapi masih saja belum sanggup terinternalisasi dengan baik.
Terhadap persoalan di atas, menurutnya, salah satu solusi yang bisa diandalkan adalah bagaimana melatih siswa untuk terampil berpikir tingkat tinggi dengan suatu harapan siswa bisa menggapai secara memadai penghayatan terhadap nilai-nilai kehidupan.

Memasuki inti kegiatan, peserta workshop diajak oleh narasumber untuk memasuki dunia HOTS. Ibarat gayung bersambut, para peserta antusias untuk mengasah kemampuan mereka tentang bagaimana pembelajaran dan penilaian yang bisa memenuhi kriteria HOTS.

Pada latihan pertama, peserta diajak untuk melihat perangkat pembelajaran masing-masing (RPP) dan selanjutnya diajak untuk mendalami kompetensi dasar yang mana yang sekiranya ada dan mudah dimunculkan model pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS. Tidak kalah penting setelah itu, yaitu bagaimana merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) yang memenuhi kriteria HOTS.

Usai latihan tahap pertama, selanjutnya peserta diberi kesempatan untuk presentasi. Kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh bu Riska Mareitha, guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Inggris SMA Negeri 4 Malang. Dengan pemaparan materi yang baik, bu Riska mencoba menyampaikan bagaimana cara menganalisa pesan-pesan visual-literal pada gambar/ foto, yaitu melihat suatu gambar/ foto yang di dalamnya ada teks penyerta (caption). Ahai, hasilnya sudah HOTS dan aplaus peserta pun mengiringinya.

Tiba giliran presentasi berikutnya, yaitu mata pelajaran Sejarah yang diwakili oleh Bu Esti Palupi dan bu Intan Cahyaningtyas. Mereka berdua memaparkan tentang teori big bang dan konsep perubahan sejarah. Pada awalnya, level kognitif yang disajikan dalam pembelajaran dan penilaian belum memenuhi kriteria HOTS. Setelah dapat masukan dari narasumber dan sharing of ideas dengan peserta, khususnya terkait dalam merumuskan indikator pencapaian kompetensi, akhirnnya materi yang disajikan bisa memenuhi kriteria HOTS. Sebagaimana pada bu Riska, ahai, sambutan aplaus peserta turut mengiringi keberhasilan presentasi mereka berdua. Memang, belajar untuk bisa, layak untuk gembira. [tomi]*

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>