• Telp. (0341) 325267
  • info@sman4malang.sch.id

Stop Hoaks dan Radikalisme demi Indahnya Keberagaman Indonesia

WhatsApp Image 2021-08-19 at 20.32.49

Stop Hoaks dan Radikalisme demi Indahnya Keberagaman Indonesia

Oleh: Maulani Zulfa Amalia/SMAN 4 Malang

 

Indahnya Keberagaman

Putih, langsing, berambut lurus, dan berkulit mulus. Mungkin itulah standar kecantikan yang dielu-elukan sebagian besar wanita Indonesia. Namun, tahukah kalian bahwa standar kecantikan yang diseragamkan tersebut menjadikan konsep keberagaman semakin terkikis? Dapatkah kita mengakui bahwa kecantikan tidak berpatok pada standar yang diciptakan manusia? Jawabnya, TENTU BISA. Salah satu produk kecantikan Indonesia, Unilever, telah memulai langkah baik ini. Dilansir dari wolipop.detik.com, pada Maret 2021, perusahaan Unilever akan menghapus kata “normal” dari kemasan produk mereka. Keputusan ini diambil sebagai wujud dukungannya pada inklusivitas dan keberagaman di sektor kecantikan. Mereka merasa bersalah karena selama ini banyak perempuan yang terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh iklan produk kecantikan yang menyamaratakan standar kecantikan semua orang.

Dari standar kecantikan, kita bisa belajar mengenai pentingnya menghargai keberagaman. Tentu keberagaman menjadi isu yang tak akan berhenti “digoreng” sana-sini oleh berbagai pihak jika kita menyikapi keberagaman hanya sebagai biang masalah. Dilansir dari ayocirebon.com, dalam beberapa tahun terakhir tercatat ada sejumlah konflik yang dipicu isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di Indonesia. Di antaranya konflik antarsuku di Sampit pada 2001, konflik antar-agama di Ambon pada 1999, dan konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah pada 1976-2005. Hal ini tentu menjadi ancaman dari dalam bagi bangsa Indonesia untuk mempertahankan persatuan.

Hakikatnya, manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dengan keunikannya masing-masing. Tidak hanya perihal kecantikan atau pribadinya, tetapi juga asal-usulnya. Setiap orang memiliki suku, agama, ras, budaya, bahkan bahasanya sendiri. Keberagaman tidak hanya ada di dalam lingkup masyarakat, tetapi juga sekolah dan keluarga. Sebagai contoh, di dalam sebuah keluarga kecil, bisa saja suami berdarah Batak dan istri berdarah Jawa. Memang tidak dapat dipungkiri, keberagaman dapat terwujud di mana saja, bahkan di lingkup sekecil apapun.

Seperti yang dikatakan sastrawan sekaligus budayawan, Y. B. Mangunwijaya di film Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2), setiap orang memang diciptakan dari berbagai macam dan asal. Hal ini supaya bisa saling memahami, saling membawa manfaat, dan membawa cinta pada sesama. Oleh karenanya, setiap orang selalu dibimbing untuk bersikap toleran terhadap sesama agar bisa hidup aman dan damai serta menjaga persatuan dan kesatuan.

 

Perkembangan Teknologi dan Maraknya Hoaks

Ilmu pengetahuan adalah pelita hidup. Peribahasa ini tampaknya mencerminkan keadaan Indonesia saat ini. Pelita hidup seseorang bisa padam jika tak punya dasar pendidikan, Api perpecahan sangat mudah tersulut jika tak ada cahaya dalam hidup. Selain beragam suku, ras, dan agama, tingkat pendidikan masyarakat Indonesia juga beragam. Dari buta huruf hingga bergelar profesor. Berdasarkan data BKKBN tahun 2021, dari 271,3 juta jumlah penduduk, 65 persen di antaranya tidak tamat pendidikan SMP. Hal ini tentu memengaruhi kesiapan Indonesia dalam menghadapi era globalisasi dan teknologi.

Pendidikan berkaitan erat dengan teknologi dan keduanya saling memengaruhi satu sama lain. Teknologi mempermudah akses pendidikan. Dengan pendidikan yang dimiliki, seseorang bisa mengembangkan atau bahkan menciptakan teknologi. Tidak hanya itu, pendidikan juga membuat seseorang paham seluk-beluk dari teknologi, sehingga dia tidak semena-mena dalam menggunakannya.

Di Indonesia, teknologi terus berkembang pesat. Namun, tidak disertai dengan kesiapan sumber daya manusia secara pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan mental. Tentu hal ini membuat Indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi era globalisasi. Mereka berkeinginan mengejar teknologi, tetapi pada akhirnya yang dikejar adalah “pencitraan teknologi”, artinya supaya orang lain menilai mereka paham dan mengikuti perkembangan teknologi, seolah-olah siap menghadapi hantaman teknologi. Bahkan, dilansir dari kominfo.go.id, berdasarkan survei Asosiasi Penyelanggara Jasa Internet Indonesia (APJII), hingga November 2020, pengguna internet di Indonesia diperkirakan berjumlah 196,7 juta pengguna.

Sayangnya, di zaman yang canggih ini, orang-orang tidak hanya menggunakan internet untuk hal-hal positif, namun juga negatif. Faktanya, data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Bagi masyarakat yang kurang edukasi mengenai teknologi, mereka dapat dengan mudahnya menyerap informasi dari berbagai sumber. Jika mereka terus-menerus mengonsumsi informasi tanpa menyaringnya, maka gangguan mental akan menghampiri, dari gangguan emosi sampai pikiran yang “dihantui” dalam jangka waktu lama. Selain itu, berita hoaks juga bisa menyebabkan perpecahan antarmanusia, hilangnya keharmonisan dan toleransi, serta rusaknya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Dalam Islam, Alquran sebagai kitab suci memberikan pandangan dalam menjaga harmonisasi dan toleransi dari hoaks. Pertama, mencari kebenaran atas informasi yang didapatkan dan menahan diri untuk langsung mempercayai informasi tersebut. Kedua, menjauhi asumsi yang belum jelas kebenarannya. Ketiga, memberikan edukasi mengenai cara mencegah berita hoaks. Keempat, melestarikan budaya literasi dimulai dari anak-anak hingga lansia.

Jika dihubungkan dengan pelajar, maka peran mereka sebagai generasi muda Indonesia sangat penting. Mereka harus bisa mengubah cara berpikir dan menerapkan langkah-langkah kecil demi memberantas berita hoaks, seperti menyaring informasi yang mereka konsumsi. Jika tidak dimulai dari sekarang, maka hoaks akan menimbulkan penyakit mental seperti post-stress traumatic stress syndrome (PTSD), kecemasan, sampai kekerasan. Maka dari itu, melalui langkah kecil, harapannya budaya “menaruh kepercayaan pada hoaks” di Indonesia bisa terhenti sehingga persatuan dan kesatuan tetap terjaga.

 

Moderasi Beragama dan Kebhinnekaan

Tidak hanya berita hoaks, Indonesia pun dilanda gerakan radikalisme yang mengatasnamakan agama. Secara menyeluruh, radikalisme agama adalah gerak keagamaan berbasis kepada tafsiran literal hukum agama demi pemahaman dan praksis keagamaan yang lurus dan murni. Oleh karena itu, kaum radikal menolak Pancasila dan toleransi.

Sebenarnya, radikalisme ini dapat diberantas melalui pendidikan agama yang moderat dan inklusif. Di dalam konsep Islam tentang moderasi agama, menurut Afrizal Nur dan Mukhlis dalam artikelnya, Konsep Wasathiyah dalam Al-Quran (2016), moderasi beragama dapat ditujukkan melalui sikap tawazun (berkeseimbangan), i’tidal (lurus dan tegak), tasamuh (toleransi), musawah (egaliter), syura (musyawarah), ishlah (reformasi), aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), serta tathawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif). Diharapkan konsep ini mampu diterapkan secara baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kebhinnekaan dapat terjaga, serta memupus diskriminasi atau radikalisme.

Dapat disimpulkan bahwa hal terpenting dalam menjaga kebhinnekaan serta persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia adalah sikap toleransi, moderasi beragama, dan penyaringan informasi. Sikap ini dapat terwujud ketika masyarakat sadar akan pentingnya literasi. Tidak hanya literasi bahasa, namun juga literasi budaya, literasi agama, dan literasi teknologi.

Dengan peningkatan keterampilan literasi ini, bangsa Indonesia dapat beradaptasi sekaligus bersikap arif dalam menghadapi derasnya perkembangan teknologi. Bangsa Indonesia juga dapat saling menghormati antar-umat beragama, sekaligus dapat memahami bahwa keberagaman yang ada di Indonesia merupakan kekayaan yang tidak ternilai. Jangan biarkan radikalisme dan berita hoaks memecah belah dan merusak keindahan dari keberagaman Indonesia. Sebab, keberagaman di Indonesia merupakan kekuatan untuk menjadi negara yang lebih baik.

Leave a reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>