• Telp. (0341) 325267
  • info@sman4malang.sch.id

Kobarkan Semangat Diri di Era Pandemi

WhatsApp Image 2021-08-19 at 20.32.46

Kobarkan Semangat Diri di Era Pandemi

Oleh: Sheila Putri Purwanto / SMAN 4 Malang

 

Menghadapi era pandemi Covid-19, menghadapi pagebluk yang tak kunjung henti. Mungkin itulah gambaran dari peristiwa menyebarnya penyakit Coronavirus 2019 atau disingkat Covid-19 di seluruh belahan dunia. Segenap pihak bahu-membahu menyeragamkan berbagai upaya untuk membasmi virus dari muka bumi. Memang, penyakit yang pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok, pada 1 Desember 2019 lalu ini sangat berdampak pada seluruh kehidupan masyarakat. Mulai dari kesehatan, sosial, ekonomi, hingga pendidikan. Lantas, seberapa jauhkah kita telah memaksimalkan diri dalam memberantas virus ini? Mari kita tengok mulai dari langkah kecil di sekitar kita.

Lockdown. Satu kata yang kerap digaungkan di masa pandemi ini. Nyatanya, lockdown menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus. Beberapa negara di dunia menerapkan kebijakan ini guna mencegah penyebaran virus tersebut. Kegiatan pembelajaran menjadi terbatas dan harus dilakukan di rumah masing-masing untuk mencegah penularan Covid-19 yang lebih buruk lagi. Kegiatan belajar dari rumah tersebut dilakukan dari segala tingkat jenjang pendidikan, mulai TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.

Perubahan tak serta-merta membawa kemudahan. Banyak pro-kontra serta hambatan yang menjadi tantangan. Kegiatan pembelajaran dari rumah, contohnya. Siswa dituntut untuk mengikuti pembelajaran dengan baik melalui bantuan berbagai aplikasi pembelajaran daring. Ada juga tugas-tugas yang mengharuskan siswa untuk mengunggah di aplikasi kekinian, seperti TikTok, dengan berbagai editan yang menarik. Lantas, sebagai siswa, hal ini memecut kita untuk pandai-pandai berteman baik dengan teknologi. Pilihannya hanya dua, beradaptasi atau ketinggalan informasi.

Satu pertanyaan yang mungkin sering ada di benak siswa, guru, bahkan orang tua. Kapan pembelajaran tatap muka akan dilakukan? Rupanya, kebosanan, kesulitan dalam pemakaian teknologi, hingga keadaan yang tidak mumpuni turut merundung segenap pihak. Selagi menunggu berbagai wacana perihal pembelajaran tatap muka, semangat para siswa harus terus dikobarkan selama pembelajaran di rumah demi menjaga tali ilmu yang tak boleh putus.

Tak luput dari ingar-bingar pembelajaran daring, sekolah saya, SMAN 4 Malang, saat ini juga masih melakukan pembelajaran secara online atau daring. Memang tidak selancar pembelajaran tatap muka. Namun, demi mendapat ilmu untuk masa depan dan nilai untuk menggapai perguruan tinggi, kami semua sebagai siswa wajib memiliki semangat dan tekad membara untuk mengejarnya.

Tantangan. Hal ini yang harus kami hadapi bersama. Banyak siswa mengaku kesulitan memahami pembelajaran dari guru karena berbagai hal, seperti jaringan sedang bermasalah, tidak bisa bebas bertanya layaknya di sekolah, hingga terlambat presensi karena bangun terlalu siang. Siswa juga cenderung malas untuk mengulang materi yang sudah dijelaskan dan lebih banyak mencari di internet untuk mendapat jawaban dari tugas rumahnya. Dengan kondisi ini, apakah akan muncul generasi yang “lembek” seperti yang digaungkan beberapa tokoh terkenal? Seharusnya tidak, karena tantangan yang kami hadapi menjadikan kami generasi yang lebih kuat, asal kami mau dan mampu beradaptasi.

Berbagai upaya tak luput dari ikhtiar kami sebagai manusia. Praktik-praktik pembelajaran hybrid dan blended learning sudah pernah dilakukan beberapa kali. Uji coba pembelajaran di sekolah dengan melakukan protokol kesehatan ketat, seperti cuci tangan dengan sabun, mengukur suhu tubuh, menggunakan hand sanitizer teratur, jaga jarak dengan aturan satu meja satu siswa, dan menggunakan masker pastinya. Namun, upaya untuk meneruskan api semangat belajar itu harus terseok-seok dengan adanya PPKM. Artinya, kegiatan dari rumah kembali dilakukan. Masa-masa SMA yang konon ditasbihkan sebagai masa-masa paling indah  harus kami nikmati walau terhalang jarak akibat pandemi global.

Seperti peribahasa, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, tentu dalam menghadapi pandemi sekarang ini, membutuhkan peran dan dukungan dari berbagai pihak. Peranan guru, orang tua, satuan petugas kesehatan, dan komite sekolah sangat penting dalam turut andil pada kegiatan pembelajaran. Guru sebagai pemberi ilmu pengetahuan dari sekolah serta orang tua kedua setelah orang tua di rumah, orang tua di rumah sebagai pembimbing pembelajaran, satuan petugas kesehatan sebagai pengarah kesehatan pada masyarakat, serta komite sekolah berperan turut andil dalam pembelajaran siswa. Bahu-membahu dan kerja sama menjadi hal yang penting untuk dilakukan saat ini.

Dengan demikian, tak ada gading yang tak retak. Tak ada kesempurnaan dalam sebuah upaya. Begitu pula dengan kegiatan pembelajaran di rumah yang memiliki dampak positif dan negatif. Kita sadari bersama, dampak positif yang didapat, siswa lebih mengenal teknologi dan cara-cara pengaplikasiannya, bisa melakukan kegiatan bermanfaat lain dari rumah, dan masih banyak lagi. Namun, seperti koin yang punya dua sisi, pembelajaran daring juga mempunyai dampak negatif. Di antaranya adalah mulai terbentuknya pribadi siswa menjadi sosok individualisme dan kurangnya pemahaman pada materi pembelajaran sekolah. Namun, hal itu diharapkan tak menyurutkan semangat siswa dalam mencari ilmu. Mari, bahu-membahu meminimalisasi kemungkinan dampak negatif dari pembelajaran daring. Selagi matahari masih ada, kobarkan api semangat belajar!

 

 

Leave a reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>