• Telp. (0341) 325267
  • info@sman4malang.sch.id

Belajar Tatap Muka, Belajar Kehidupan

WhatsApp Image 2021-08-19 at 20.32.50

Belajar Tatap Muka, Belajar Kehidupan

Oleh: Reyna Fauziah Dwi Cahyani/ SMAN 4 Malang

Belajar secara daring selama setahun lebih, siapa yang tidak bosan? Hal ini dirasakan oleh salah satu siswa SMAN 4 Malang, Syafril Nur Faizi, biasa disapa Faiz, siswa kelas XI MIPA. Semenjak pandemi COVID-19 merebak di Indonesia, maklumat belajar dari rumah pun diresmikan oleh pemerintah. Faiz yang terbiasa dan nyaman belajar secara tatap muka jelas merasa kaku dan kesulitan dengan metode pembelajaran yang diganti tanpa ada persiapan sama sekali ini. Pergantian metode pembelajaran secara tiba-tiba ini menurunkan antusiasnya untuk belajar. Saat belajar daring, ia merasa kesulitan dalam mengatur waktu, bahkan sempat mengalami keterlambatan dalam mengumpulkan tugas beberapa kali. Suasana di rumah yang menurutnya kurang mendukung untuk belajar membuatnya menunda tugas-tugasnya. Selain itu, hampir seharian ia menggunakan ponselnya bukan untuk kegiatan sekolah, tetapi untuk berselancar di sosial media ataupun bermain game.

Menurutnya, belajar secara tatap muka lebih menguntungkan dibanding belajar daring. Belajar daring memang membantunya dalam meningkatkan nilai rapor. Namun, ilmu yang didapatnya tidak seberapa dibanding belajar secara tatap muka. Belajar secara tatap muka di sekolah sangat membantunya dalam memahami materi yang diajarkan. “Karena aku telah 10 tahun belajar tatap muka, menurutku lebih banyak ilmu yang masuk dari belajar tatap muka daripada daring, entah itu ilmu pelajaran ataupun ilmu tentang kehidupan. Salah satu ilmu tentang kehidupan yang pernah aku tangkap dari belajar tatap muka itu waktu dompetnya kakak kelas hilang, semuanya bisa urunan bantu,” ujarnya.

Ilmu tentang kehidupan yang ia dapat salah satunya dalam bersosialisasi. Ketika belajar secara tatap muka di sekolah, ia memiliki banyak kenangan dan keseruan bersama teman-temannya yang mungkin takkan ia dapatkan saat belajar daring, apalagi ia adalah seorang introvert. Saat belajar daring, ia berkomunikasi dengan temannya hanya sebatas menanyakan tugas. Berbeda jauh dengan belajar secara tatap muka, ia dan teman-temannya membahas begitu banyak hal. Selain itu, ada lagi ilmu tentang kehidupan yang ia dapat saat belajar tatap muka dulu, yaitu tolong-menolong. Ini adalah salah satu hal penting yang harus ditanamkan semua orang dalam kehidupan sehari-hari.

“Dulu ada kakak kelas yang dompetnya hilang, lalu kita sama-sama urunan (iuran) untuk bantu gantiin uang kakaknya yang hilang. Semoga ke depannya bisa ngelakuin hal-hal bagus kayak gini waktu sekolah lagi,” ujarnya. Begitu tersebar maklumat uji coba belajar tatap muka dari Dinas Pendidikan Jawa Timur, Faiz merasa kembali bersemangat dan bahagia, meskipun itu hanya sebagai uji coba, ia tetap bersyukur. Ia berpikir bahwa inilah waktu yang tepat untuk mendalami materi yang tak bisa ia pahami ketika daring, kesempatan yang tepat untuk mengejar ketertinggalannya di materi-materi sebelumnya, terutama materi peminatan.

Hari Pertama Belajar Tatap Muka

Pada hari pertamanya kembali bersekolah, tepat 19 April 2021, pukul 06.50 WIB, saat itu matahari masih malu-malu, tetapi ia sudah bergegas dan tiba di sekolah tepat waktu. Sesampainya di pos satpam sekolah, Faiz diarahkan ke wastafel terdekat untuk mencuci tangan dan mengecek suhu tubuh. Setelah itu, ia berbaris bersama teman-temannya yang kebetulan mengantre di dekat gazebo untuk diberi handsanitizer dan masker medis, apabila saat itu menggunakan masker kain. Sembari menunggu gilirannya, ia dan teman-temannya saling bercerita tentang perasaan mereka sebelum belajar secara tatap muka akan dimulai.

Deg-degan sekaligus rasa semangat membuncah perasaan masing-masing. Saat jam pelajaran berlangsung, ia memberikan atensi penuh pada guru yang sedang mengajar, berbanding terbalik ketika belajar daring.  Ia juga tidak perlu risau untuk kehabisan kuota internet di tengah-tengah pembelajaran. Ditambah lagi suasana di kelas yang lama tak ia rasakan, yang dulunya hanya bisa ia rindukan kini kembali ia cecap.

“Bisa ketemu teman, ketemu guru, diajari guru secara langsung lagi. Materi seperti fisika dan kimia yang susah dipahami waktu belajar daring, akhirnya bisa dipahami. Waktu ngomong sama teman agak melelahkan, apalagi waktu diskusi, karena kita pakai masker, kadang mereka kurang dengar dengan apa yang kita omongin. Lelah, tapi seru,” ujar Faiz. “Ada satu lagi yang kurang, sih. Kalau dulu sebelum pandemi biasanya kita bisa kabur waktu jam pelajaran, asalkan kita cerdik atur strategi. Demi jajan di kantin, kita rela kabur. Tapi kalau yang sekarang udah gak bisa, karena gak dikasih waktu istirahat. Cuma belajar aja,” tambahnya.

Pembelajaran tatap muka yang Faiz jalani selama uji coba berhasil membuatnya kembali antusias untuk belajar, seperti saat kelas X dulu.  Belajar secara tatap muka memang benar efektif dan efisien dalam banyak hal. Lagi pula, belajar secara langsung sangat mendukung perkembangannya, baik dalam akademik maupun karakter. Ia berharap pandemi COVID-19 segera berakhir, sehingga ia dan teman-temannya bisa kembali belajar seperti sedia kala.

 

Leave a reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>