• Telp. (0341) 325267
  • info@sman4malang.sch.id

Budaya Positif Menandakan Sekolah Bermotif

Capture-sulton

Oleh : Achmad Sulton, S.Pd.

Sekolah yang memiliki ciri khas adalah sekolah yang didalamnya terdapat sesuatu yang ajeg dan bisa dilestarikan dan menimbulkan kenyamanan dalam pembelajaran, salah satunya adalah budaya positif yang dimiliki sekolah. Apabila budaya positif dikembangkan oleh seluruh warga sekolah maka akan menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi antar warga sekolah. Dalam hal ini tanggung jawab sebagai siswa, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Budaya positif akan tercermin dalam pembelajaran didalam kelas. Situasi kelas menjadi nyaman serta adanya keperdulian satu sama lain. Sehingga akan menciptakan budaya ajar yang baik. Dampak yang paling dirasakan apabila budaya positif berkembang disekolah adalah suasana sekolah menjadi nyaman, tenang dan bersih. Karena seluruh warga sekolah memiliki tingkat kepedulian yang tinggi dari budaya positif yang dikembangkan. Oleh sebab itu budaya positif tersebut akan tercipta dengan sendirinya, semua elemen sekolah akan merasa memiliki sekolah dengan baik. Mereka akan sadar bahwa pengaruh dan dampak besar dari budaya positif yang dibentuk disekolah.

Penerapan Budaya Positif yang dikaitkan dengan aktivitas belajar mengajar

salah satu contoh penerapan budaya positif yang bisa dikembangkan disekolah adalah pembuatan kesepakatan kelas oleh guru mata pelajaran, yang bertujuan untuk menumbuhkan tanggung jawab dan kepedulian siswa dikelas. Kesepakatan yang dibuat hendaknya menampung aspirasi antar siswa, karena mereka yang tahu banyak tentang kelas dan pembelajaran didalamnya. Kolaboratif antar siswa yang menelurkan ide-ide untuk menyepakati peraturan kelas yang dijadikan sebagai landasan aturan dikelas. Konsekuensi yang ditimbulkan menjadi bagian kesepakatan yang harus diikuti. Apabila kesepakatan ini dijalankan maka budaya positif akan nampak nyata terlihat dalam diri siswa dan guru. Kelas menjadi tenang tanpa ada kegaduhan dan kejenuhan, karena siswa sudah sadar apa yang harus mereka lakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Masing-masing siswa akan merasa mempunyai tanggung jawab yang harus dijalankan, apabila tidak dijalankan maka akan ada konsekuensi yang mereka tanggung. Setelah semua ide dari siswa ditampung, maka kesepakatan tersebut bisa ditandatangani oleh guru dan siswa sebagai bagian kesepakatan yang sah dilaksanakan dikelas.

Panduan Membuat Kesepakatan Bersama Anak
(Foto : Panduan Membuat Kesepakatan Bersama anak Sb: keluargakita.com)

Oleh sebab itu, peran guru penggerak terhadap teman sejawat adalah menjadi pendorong budaya positif disekolah, contohnya kesepakatan kelas yang dibuat oleh guru mata pelajaran bisa dijadikan contoh bagi guru/ teman sejawat yang lain. Kesepakatan yang dibuat berdasarkan ide bersama oleh siswa dan guru. Selanjutnya guru penggerak juga membuat poster budaya positif yang ditempel di mading sekolah agar semua warga sekolah memahami dan menerapkan budaya positif sebagai bagian dari perubahan sekolah kearah yang lebih baik. Sebagai guru penggerak, kita juga harus bisa menerapkan budaya positif dilingkungan sekolah yang ajeg dan konsisten yang melibatkan semua pihak, sehingga sekolah menjadi motif budaya positif bagi sekolah lain yang menunjang visi sekolah. Dalam hal ini pihak  yang terlibat harus saling bahu membahu mengimplementasikan budaya positif, tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di lingkungan sekolah. Budaya yang dirasakan oleh semua pihak sebagai suatu keharusan yang harus dijalankan tanpa ada unsur paksaan.

Sedangkan Filosofis pendidikan yang dijelaskan oleh KHD adalah memberikan tuntunan terhadap kekuatan kodrat yang dimiliki oleh anak agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia dan anggota masyarakat. Sedangkan pengajaran adalah proses pendidikan dalam memberi ilmu/faedah/kecakapan hidup anak. Oleh sebab itu sebagai guru hanya bisa menuntun kekuatan kodrat pada anak agar bisa memperbaiki laku hidupnya, mereka akan tumbuh berdasarkan kekuatan kodrat yang mereka miliki, yang disesuaikan dengan kodrat zaman dimana mereka hidup. Lebih lanjut KHD menjelaskan tentang budi pekerti/watak/karakter yang merupakan perpaduan gerak pikir, perasaan dan kehendak yang dapat menimbulkan tenaga. Budaya positif yang tercakup dalam pemikiran KHD adalah watak/karakter yang merupakan pencerminan dari diri siswa, kodrat yang mereka miliki dari lahir yang mereka bawa dan bisa dijadikan budaya positif di sekolah. Dalam hal ini guru sebagai penuntun siswa dalam mengembangkan watak dan karakter mereka, guru hanya bisa mengontrol dan menuntun mereka menjadi lebih baik dan bukan mengubah kodrat yang mereka miliki.

 

Leave a reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>